Senin, 18 April 2011

Terima kasih banyak....



Beberapa tahun yang lalu, sa’at masih bekerja di Manyar Garden Hotel  sebagai seorang reception, aku kebetulan piket mulai jam 2 siang sampai jam 10 malam. Disore hari yang lengang, tiba-tiba muncul 3 mobil panther  berhenti tepat didepan hotel tempat aku bekerja, Salah seorang dari mereka turun dari mobil dan menuju kearahku, “Selamat sore, selamat datang di manyar garden hotel, ada yang bisa kami bantu pak??” greeting ku ke sosok lelaki yang tegap itu, kontan dia menjawab sapaanku dengan “@##%$*^%@><>”%#@!!^#”  (iki huduk sensor, sebab aku gak ngomong jorok atau yang berbau sara)…… , akan tetapi, Ya ampun ternyata sang bapak ini tuna wicara, dengan bahasa isyarat dan artikulasi yang terdengar seperti  (ma’af) kaset mbulet bin kusut atau malah terdengar seperti (ma’af lagi) Tarzan memanggil para penghuni rimba, partner kerjaku sudah lari untuk mengumbar tawanya, sedang aku kebingungan, kulihat 3 mobil yang kalo tiap mobil berisi 10 orang berarti ada 30 orang (matematika ku jan top,,hehehe) masak iya?? 30 orang tuna wicara semua. Tiba-tiba (thing!! Bohlam menyala diatas kepalaku, entuk ide koyok pilem kartun) kuambil kertas dan kutuliskan “mohon ma’af pak, dengan tanpa maksud apa-apa, kecuali agar komunikasi kita lancar, ada yang bisa kami bantu pak”, akhirnya lewat short message service dengan media kertas dapat kuketahui kalo bapak tersebut berniat bermalam, dan membutuhkan 15 kamar, dikarenakan kamar yang masih tersedia hanya 5, akhirnya kutunjukkan arah ke hotel lain, yang mungkin masih bisa untuk ditempati rombongan tersebut. Kemudian iring-iringan mobil tersebut meninggalkan hotel kami (apa ceritanya selasai sampai disini?? Ternyata belum…).
Kira-kira setengan jam kemudian, satu mobil datang dan turun bapak yang tadi, “opo maneh iki” pikirku, ternyata dengan menempuh jarak sekian kilo meter, menghabiskan sekian menit sekian detik perjalanan dari hotel yang kutunjukkan menuju hotel tempat aku bekerja, bapak tadi Cuma minta pulpen dan kertas dan menuliskan “Terima kasih banyak atas bantuannya “, sambil keluar bapak itu berkali-kali mengucapkan “@#!$%^%$#=terima kasih” dengan posisi tangan didepan dada seperti menyembah.
Ya ampun Tuhan, Kau Maha Bijaksana, dibalik kekurangan seseorang, Engkau anugerahkan kelebihan yang mungkin aku sendiri enggan melakukan apa yang dilakukan bapak tadi….

Senin, 04 April 2011

Banyuwangi 4 April


Waktu bergulir dengan kesombongannya
Dia beranjak begitu cepat
Tanpa memperdulikan apa yang pernah dilaluinya
Tanpa menghiraukan apa yang pernah dilewatinya
Seiring dengan berputarnya sang waktu
Semua telah berubah, engkau telah berubah, tapi tidak denganku
Kita sudah tak lagi melihat bulan yang sama
Kita sudah tak lagi menunjuk bintang yang sama
Semua benar - benar telah berubah…..
Meski aku tahu bagaimana cara mencintaimu
Tapi aku tak pernah tahu cara membencimu
Meski aku tahu bagaimana cara membahagiakanmu
Tapi aku tak pernah tahu cara menyakitimu
Dan aku tak pernah punya cara melupakanmu
Karena aku selalu mengingatmu….
Walau tak terucap…
Meski tak terungkap…
Aku selalu mengingat, hari ini kau bermilad…
Happy Birthday… Tuhan Memberkati….

Kamis, 24 Maret 2011

BAHASA


Indonesia adalah negara yang kaya akan hasil bumi dan budayanya, begitu pula bahasa, hampir masing2 daerah di Indonesia ini memiliki bahasa dan logatnya masing-masing. Kali ini aku akan bercerita tentang pengalaman pribadiku tentang bahasa, aku terlahir dari seorang bapak suku Oseng, dan ibu suku Jawa, bahasa sehari-hari dirumah, bahasa ibu tentunya, yaitu jawa, dan bahasa pergaulan sehari-hari bahasa Oseng. Sedang bahasa Jawa sendiri terbagi atas 3 tingkatan: ngoko, Kromo madyo, dan kromo inggil. Bahasa jawa yang ku kuasai, hanya ngoko , karena dari kecil aku tidak diajarkan menggunakan kromo (opo saking aku sing ndlalir?? Lali, pokok intine aku gak pati iso kromo).
Ada  kisah mengenai bahasa yang masih jelas diingatanku, dulu waktu masih duduk dibangku sekolah SMA, teman2 mengajak untuk ikut konvoi kendaraan, maklum waktu itu musim kampanye, dan aku ikut konvoi salah satu partai (padahal neng umah wis diwarah emak, ojo pati milu2 kampanye), untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, aku mengalamai kecelakaan bersama seorang teman, luka lecet disekujur tubuh, karena gak berani pulang (wedi diamuk emak, emak rodok galak), aku memutuskan untuk bermalam dirumah teman didaerah sempu setail, nah pada sa’at mengobati luka2 lecet dan lebam nenek temenku yang jawa tulen bertanya “opo’o le koq beset2 kabeh??”(kenapa koq penuh luka??) , sebagai anak yang jauh lebih muda, aku harus menjawab dengan sopan dong, dengan yakin aku menjawab “mantun jawah mbah..”, sontak semua yang ada diruangan itu tertawa lebar, sedang aku kebingungan (apa ada yang salah ya??) salah satu teman nyletuk “Ndy jawah itu hujan, kalo jatuh itu dawah”, padahal beda tipis antara “J” dan “D” kenapa artinya jauh banget ya………
Masih tentang bahasa jawa, suatu hari aku terguncang2 diatas kereta api kelas ekonomi jurusan Jogjakarta, setelah kira2 melewati stasiun Solo Balapan, duduk didepanku ibu2 tua dengan cucunya, basa basi dengen jurus SKSD pun kulancarkan. Berikut petikan percakapan tsb:
Aku : Badhe dateng pundi bu?? (mau kemana bu)
Ibu: Yugjo mas, lha mas e?? (jogja, lha masnya mau kemana??<kiro2 ngono>)
Aku: sami bu, dalem badhe dateng Jogja (sama bu, saya juga mau ke Jogja)
Setelah kira2 777 kalimat 12895 kata, si ibu mulai melancarkan beberapa pertanyaan yang membuatku harus berpikir keras, sekeras batu karang, hanya untuk menjawabnya (mulai lebay). “Mas e sampun simah??” pertanyaan pertama yang menerjangku, (aku menganalisa pertanyaan ibu itu, kata simah berasal dari umah, tapi diawali dengan sampun yang berarti sudah, mungkin maksud pertanyaan ibu itu “mas nya sudah berumah tangga??), akhirnya aku menjawab dengan penuh keraguan “dereng bu”, ibu itu tersenyum dan melontarkan pertanyaan berikutnya “lha mas e diparingi yuswo pinten??” (kembali aku menganalisa dengan kemampuan otak Pentium 1 ku, “ini mungkin lanjutan dari pertanyaan pertama”, pikirku) . Dengan keyakinan tingkat tinggi aku menjawab “lha wong simah mawon dereng koq diparingi yuswo to bu?? Nggih dereng no..”, kontan  si ibu langsung bingung dan mengernyitkan dahi mendengar jawabanku, lantas dia tersenyum dan kembali bertanya kali ini dia mengulang kembali pertanyaannya dengan bahasa Indonesia, “mas nya umur berapa??” langsung kujawab “21 th bu”. Lalu ibu itu menjelaskan maksud kebingungannya “saya tadi bertanya hal yang sama tentang usia mas nya, lha koq malah dijawab…, lha berumah tangga saja belum koq dikasih umur”………, sambil tersipu malu aku berkata “saya pikir yuswo(umur) itu sama dengan yugo(anak) bu…….”. Sejak sa’at itu si ibu selalu berbahasa Indonesia dengan ku……………

Itulah sekelumit pengalaman tentang kemampuanku berbahasa dengan baik dan benar, semoga anda bisa tersenyum……